Oleh: Dr. Aan Rohanah, Lc., M.Ag.
Berselisih antara suami istri atau antar mereka dengan yang lain merupakan perbuatan tercela, sebab sering kali menimbulkan pertikaian, permusuhan, perceraian, perpisahan hingga memutuskan silaturahmi dan dikuasai syetan. Rasulullah SAW bersabda:
إن الشيطان قد أيس أن يعبده المصلون في جزيرة العرب، ولكن في التحريش بينهم. (رواه مسلم)
“Sesungguhnya syetan putus asa menggoda orang-orang yang shalat menyembahnya di Jazirah Arab, tetapi berhasil menimbulkan tahrisy diantara mereka.” (HR.Muslim)
At-Thayyiby berkata bahwa makna tahrisy adalah fitnah, pertikaian, permusuhan dan pembunuhan.
Karena itu, suami istri harus bisa menjadikan pribadi mereka masing-masing menjadi juru damai. Sebelum mendamaikan orang lain , hendaknya mereka harus bisa membangun kesiapan di dalam dirinya saat terjadi perselisihan dengan pasangan atau dengan anak atau dengan lainnnya dalam keadaan tersakiti atau tidak tersakiti untuk segera mendamaikan suasana hati agar mudah berdamai atau didamaikan.
Berdamai terhadap orang yang berselisih dan mendamaikan orang-orang yang sedang berselisih itu merupakan amal yang mulia & ibadah yang berpahala. Maka hilangkanlah perasaan gengsi, benci, marah dan dendam agar mudah berdamai atau didamaikan. Jika suami istri bisa menjadi orang yang mudah berdamai atau mudah didamaikan maka mereka akan mendapatkan pahala yang besar. Nabi SAW bersabda:
ألا أخبركم بأفضل من درجة الصيام والصلاة والصدقة. قالوا: بلى يا رسول الله، قال: صلاح ذات البين، فإن فساد ذات البين هي الحالقة.
“Tidakkah aku beritahukan kepadamu sesuatu yang lebih baik dari puasa, shalat, dan sedekah? Mereka menjawab: Ya, wahai Rasulullah. Beliau bersabda: “Mendamaikan dua orang yang berselisih. Sesungguhnya kerusakan dua orang yang berselisih adalah memutuskan agama.” (HR. Tirmidzi)
Dalam hadis lain dijelaskan : “Setiap hari senin dan kamis pintu-pintu surga dibuka, maka setiap hamba yang muslim diampuni dosanya selama tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatupun kecuali seseorang dengan saudaranya bertikai , maka dikatakan: ” tangguhkanlah 2 orang ini hingga berdamai, tangguhkanlah 2 orangi ini hingga berdamai.” (HR Muslim)
Jadi sungguh rugi bagi suami atau istri yang jika bertikai sulit berdamai atau tidak bisa didamaikan, karena mereka mengutamakan perasaan kecewa, gengsi, marah dan benci. Lambat laun mereka akan kehilangan keharmonisan, cinta dan kasih sayang bahkan berujung kepada perceraian. Bahkan mereka digolongkan oleh Rasulullah sebagai orang yang telah memutuskan agama, kemudian pitu-pintu surga tertutup dan ampunan tertangguhkan hingga mereka bisa berdamai.

Tinggalkan komentar