Kita Dapat Nikmat Atau Istidraj?

3–5 menit

Apakah kenikmatan yang kita dapatkan betul-betul kenikmatan dari Allah atau sebenarnya itu istidraj? Dalam Ensiklopedia Tasawuf Imam Al-Ghazali, istidraj artinya pembiaran (untuk bersenang-senang). Yaitu pembiaran karena tidak mau berhenti melakukan hal-hal yang memalukan (maksiat). Istidraj merupakan peringatan keras dari Allah SWT.

Malik Al-Mughis dalam bukunya yang berjudul Demi Masa menjelaskan, istidraj adalah pemberian kesenangan untuk orang-orang yang dimurkai Allah agar mereka terus menerus lalai. Hingga pada suatu ketika semua kesenangan itu dicabut oleh Allah, mereka akan termangu dalam penyesalan yang terlambat.

Allah SWT berfirman dalam QS. al-Qalam ayat 44 sebagai berikut:

فَذَرْنِى وَمَن يُكَذِّبُ بِهَٰذَا ٱلْحَدِيثِ ۖ سَنَسْتَدْرِجُهُم مِّنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ

Artinya: “Maka serahkanlah (yaa Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendustakan perkataan ini (Al Quran). Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui.” (QS. al-Qalam: 44)

Orang mukmin akan merasa takut dengan istidraj, yakni kenikmatan semu yang sejatinya murka Allah SWT. Namun sebaliknya, orang-orang yang tidak beriman akan beranggapan bahwa kesenangan yang mereka peroleh merupakan kenikmatan yang layak didapatkan.

Biasanya, istidraj diberikan kepada orang-orang yang mati hatinya. Mereka adalah orang yang tidak merasa bersedih atas ketaatan yang ditinggalkan dan tidak menyesal atas kemaksiatan yang terus dilakukan.

Cara termudah untuk membedakan kenikmatan yang datangnya dari kemurahan Allah dengan istidraj adalah KETAKWAAN. Jika orang tersebut taat dalam beribadah dan semakin bertakwa sebagai tanda bersyukur, bisa jadi nikmat yang diterima adalah kemurahan Allah. Begitupun sebaliknya, apabila orang tersebut lalai dalam ibadah dan makin bermaksiat bisa jadi itu merupakan istidraj.

Dalam sebuah hadits riwayat Imam Ahmad yang berasal dari sahabat Rasulullah SAW, ‘Uqbah bin Amir, Rasulullah SAW bersabda:

“Apabila engkau melihat Allah memberikan sebagian nikmat keduniaan kepada hamba-Nya, apa saja yang diingininya dengan berbagai kemaksiatannya (yang tetap ia lakukan) maka pemberian yang demikian itu adalah istidraj.” (HR. Ahmad)

Ayat tentang istidraj pun banyak difirmankan Allah Ta’ala di dalam Al Qur’an, di antaranya:

  1. Peringatan untuk orang kafir

“Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka, bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan.” (QS.Ali ‘Imran: 178)

Inilah jawaban bagi mereka yang bertanya, “Mengapa orang kafir bisa sukses duniawi dan berkuasa?”

  1. Siksaan setelah kesenangan

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS.Al An’am: 44)

Ayat ini berlaku untuk siapa saja, baik muslim atau kafir.

  1. Harta dan keluarga tak selalu berarti kebaikan

“Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka tidak, sebenarnya mereka tidak sadar.” (QS. Al Mu’minun: 55-56)

Banyak harta dan anak bisa jadi menjadi ujian bagi kita, apakah kita semakin bertakwa atau tidak.

  1. Ditimpakan kepada mereka akibat kemaksiatan yang turun temurun

“Kemudian Kami ganti kesusahan itu dengan kesenangan hingga keturunan dan harta mereka bertambah banyak, dan mereka berkata: “Sesungguhnya nenek moyang kamipun telah merasai penderitaan dan kesenangan“, maka Kami timpakan siksaan atas mereka dengan sekonyong-konyong sedang mereka tidak menyadarinya. Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.”(QS.Al A’raf: 95-96)

Bisa jadi istidraj itu tidak datang seketika. Bahkan baru datang pada generasi berikutnya akibat kemaksiatan yang sudah menjadi budaya turun temurun.

“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui. Dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat teguh.” (QS.Al A’raf: 182-183).

  1. Ditimpakan pada orang yang tidak beriman

“Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada negeri akhirat, Kami jadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka, maka mereka bergelimang (dalam kesesatan).” (QS.An Naml: 4)

“Dan (juga) kaum ´Aad dan Tsamud, dan sungguh telah nyata bagi kamu (kehancuran mereka) dari (puing-puing) tempat tinggal mereka. Dan syaitan menjadikan mereka memandang baik perbuatan-perbuatan mereka, lalu ia menghalangi mereka dari jalan (Allah), sedangkan mereka adalah orang-orang berpandangan tajam.” (QS.Al Ankabut: 38)

  1. Ditimpakan kepada mereka yang pelit bersedekah

“Sungguh, Kami telah menguji mereka sebagaimana Kami telah mencobai pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil)-nya di pagi hari, dan mereka tidak menyisihkan (hak fakir miskin), lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Rabbmu ketika mereka sedang tidur, maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita.” (QS. Al Qalam : 17-20)

Ya Allah…kami berlindung dari istidraj-Mu. Dari kelalaian atas nikmat yang Kau berikan kepada kami.

“Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami ia berkata, “Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku”. Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui.” (QS.Az Zumar: 49)

Edited by. Satria hadi lubis

Tinggalkan komentar