Oleh. Satria Hadilubis
SEORANG ayah yang anak perempuannya meninggal karena sakit pada usia 15 tahun menemukan catatan ini di buku harian anaknya. Anak ini sekolah di pesantren. Baca dengan perlahan ya….ayah bunda.
“Abi… Jika angin berhembus membawa cerita, bumi yang bergetar tanda bencana, awan berkabut hitam tanda bahaya… Maka, ketika aku terdiam di dekat pintu, tanpa berpikir waktu… menanti kepulanganmu adalah tanda bahwa aku sangat sayang kepadamu. Aku sayang kepadamu Abi bukan karena engkau pemilik harta yang melimpah, rumah yang sangat mahal lagi megah, kedudukan yang tinggi … Aku menyayangi Abi karena Allah…Aku hanya memiliki seorang Abi…Dan aku tidak ingin kehilangan yang sangat berharga dan satu-satunya di dunia dan di akhirat… Yang aku harapkan dapat mengecup keningku dengan kasih sayangmu…”
“Ummi, sungguh bahagianya diriku mempunyai seorang ummi sepertimu. Engkau yang tidak pernah mengajariku berbohong dan tidak pernah mengajariku perbuatan tercela. Engkau yang selalu berdo’a untukku, semoga aku menjadi anak yang sholihah, menjadi seorang anak yang taat kepada perintah Allah dan rasul-Nya.
Ummi izinkan aku dan anak-anak ummi yang lain membuka pintu syurga dengan senyum keridhoanmu dan mengunci pintu neraka rapat-rapat dengan maaf, do’a dan kasih sayangmu .
Dan semoga Alloh mengumpulkan kita di syurga-Nya yang penuh dengan kenikmatan dan keridhoan-Nya..”
“Ummi…izinkan aku menangis jika air matamu terjatuh karena kedurhakaanku. Kedua tanganmu memelukku karena kerinduanmu padaku, bibir dan lisanmu yang kau basahi dengan dzikir dan doa demi mengharapkan kesholihan agama dan akhlaqku”
“Ummi sayang…dengarlah sesungguhnya buah hatimu ini tidak pernah berharap ketika ia besar nanti, ia menjadi seorang sarjana yang berbangga diri karena telah mencapai cita citanya. Karena sesunggunya cita-citanya yang paling tinggi adalah bisa melihat senyum indahmu ketika berada disisimu dan didekapan dadamu. Juga ketika air mata terjatuh karena rindu akan cinta dan kasih sayangmu…”
“Ummi… ketika detak jantungku mulai berdetak kencang dan terasa akan berhenti, saraf dalam tubuhku mulai merasakan sakit yang tak akan terobati. Denyut nafas dalam jiwaku mulai terasa berhenti maka hanya kalimat maaf yang masih terlantun lembut dari lubuk hati kecilku ini. Untukmu seorang ummi… penuh kasih dan cinta yang telah memberikanku kecupan di pipi…”
“Dahiku ini tak mampu terangkat. Lutut ini tak mampu lagi menumpu. Mata ini tak mampu lagi membendung. Rabb… aku rindu. Aku ingin pulang. Pulang ke rumah-Mu (Al Jannah). Aku cinta keluargaku, semoga aku bisa ketemu keluargaku lagi di surga”.
Ya Allah…semoga ananda sholihah saat ini dilapangkan kuburnya, tenang di alam sana. Semoga harapanmu berkumpul kembali dengan abi ummimu beserta anggota keluargamu yang lain di surga kelak terkabul.
Sebab Allah Maha baik nak…apalagi terhadapmu yang sholihah, yang meninggal pada saat menuntut ilmu di pesantren untuk menjadi sebaik-baiknya anak….
*Dari kisah nyata

Tinggalkan komentar