EKSPERIMEN UNIVERSE 25

2–3 menit

ADA sebuah eksperimen legendaris yang dilakukan oleh John B. Calhoun, seorang ilmuwan perilaku dari Amerika, dari tahun 1958 sampai awal 1970-an. Namanya: Universe 25.

Jadi ceritanya, Calhoun membuat semacam “surga” buat tikus: makanan selalu ada, air mengalir, tempat tinggal bersih, pasangan tersedia, suhu kandang dijaga tetap nyaman, dan tidak ada predator. Pokoknya, hidup para tikus ini enak banget, tidak perlu kerja, bersusah payah cari makan. Mereka tinggal hidup, makan, kawin, dan rebahan.

Satu-satunya kekurangan adalah luas kandang yang terbatas. Ya iyalah, namanya juga percobaan. Area lab pasti terbatas.

Nah, awalnya semua berjalan mulus. Tikus-tikus hidup bahagia. Tapi begitu populasi makin padat dan ruang makin sesak, mulai muncul gejala sosial yang di luar dugaan.

Tikus yang dominan jadi agresif. Yang lemah mundur ke pojokan dan mengisolasi diri. Tikus jantan kehilangan minat kawin, sementara betina stres mengurus anak sendirian. Yang muda-muda tidak sempat tumbuh dewasa karena mati duluan akibat kalah dominasi. Lama-lama, tidak ada lagi yang peduli satu sama lain. Koloni pun ambyar, bukan karena bencana alam, tapi karena kehilangan MAKNA HIDUP.

Eksperimen ini diulang 25 kali—makanya namanya Universe 25—dan hasilnya selalu sama: kehancuran total.

Padahal secara fisik, semua kebutuhan mereka terpenuhi. Yang tak terpenuhi adalah makna hidup. Tidak ada lagi tujuan bersama. Tidak perlu lagi kerja sama. Interaksi sosial memudar karena hidup sudah terlalu nyaman. Wong semuanya sudah tersedia, buat apa repot-repot minta tolong atau berbagi?

Calhoun bilang, ini bukan cuma tentang tikus. Ini tentang kita, manusia. Ini cermin interaksi sosial makhluk hidup.

Kalau hidup kita terlalu nyaman tapi kita lupa tujuan hidup, lupa menjaga koneksi antar sesama. Hanya fokus pada diri sendiri, egois dan hanya mengejar kenyamanan pribadi, maka jangan heran kalau kita juga bisa seperti “tikus cantik”: wangi, stylish, sibuk, tapi kosong.

Eksperimen Universe 25 ini mengajarkan kepada kita satu hal penting : Ketika hidup terlalu mudah, yang pertama hilang dari kita justru makna hidup. Lalu hilang juga rasa saling menghargai. Saling menjaga. Saling memperhatikan sesama kita. Juga saling berbagi dan saling tanya, “Kamu gimana hari ini?”

Kenyamanan itu nikmat, tapi juga bisa menumpulkan makna hidup dan rasa sosial. Hidup bukan cuma soal isi piring dan dompet, tetapi juga isi hati, dan isi waktu yang kita sempatkan untuk orang lain. Salah kaprah jika ada orang yang terobsesi untuk financial free, tapi anti sosial. Ujung-ujungnya kegilaan dan kehancuran!

Jika dihubungkan dengan ajaran Islam, ternyata Allah telah merancang manusia sedemikian rupa untuk menjadi makhluk yang bermakna dan makhluk sosial. Bahkan ketika kelak kita hidup di surga yang segalanya ada, kita tetap hidup bersosialisasi sebagai tanda bahwa fitrah kita memang hidup dalam makna dan kebersamaan.

“Mereka (di surga) berhadap-hadapan satu sama lain sambil bercakap-cakap” (Qs. Ash Shaffat ayat 50).

Edited by. Satria hadi lubis

Tinggalkan komentar