By. Satria hadi lubis
AKHIR-akhir ini narasi tentang wajibnya berbakti kepada orang tua dan narasi wajibnya merawat orang tua di kala mereka sudah uzur, mendapat “perlawanan” dari narasi-narasi yang menyebutkan :
- Bahwa anak tidak pernah minta dilahirkan. Orang tualah yang menginginkan adanya anak, sehingga bukan salah anak kalau anak tak peduli dengan orang tuanya.
- Anak bukan investasi, orang tua jangan menuntut balas jasa karena telah membiayai anak.
- Bukan hanya ada anak durhaka, tapi ada juga orang tua yang durhaka.
- Tak perlu berbakti kepada orang tua yang telah menelantarkan anaknya di waktu kecil.
- Sebab utama seseorang melakukan kejahatan dan kerusakan moral adalah orang tuanya yang salah dalam mendidik anaknya.
Narasi-narasi semacam ini bersliweran di berbagai medsos, juga di film-film remaja. Seakan logis dan benar. Padahal narasi tersebut adalah narasi sesat yang mungkin dibuat oleh mereka yang ingin agar hubungan orang tua dan anak saling membenci dan mendendam, sehingga hancurlah ikatan keluarga sebagai garda terdepan moralitas bangsa.
Anak dengan mudah terjerumus pada pergaulan bebas. Mereka tak mengindahkan lagi ajaran moral yang ditanamkan dengan susah payah oleh orang tuanya.
Ilmu pengetahuan boleh berkembang dan mungkin memaklumi dengan penjelasan yang rasional dan ilmiah mengapa ada anak yang jauh dan membenci orang tuanya.
Namun aturan Allah tentang bakti anak kepada orang tua sudah dibuat dan ditulis. Tak akan berubah sampai akhir jaman.
Ketahuilah….
Anak memang tak minta dilahirkan, tapi orang tua juga tak bisa memilih anak seperti apa yang akan dilahirkan. Allah SWT semata yang menghendaki kelahiran anak. Ada orang tua yang sudah berusaha punya anak tapi ternyata belum diberikan juga oleh Allah SWT.
Ketahuilah…
Anak memang bukan investasi di hari tua, tapi berbuat baik kepada orang tua itu wajib dan wajar.
Ketahuilah…
Tak ada istilah orang tua durhaka. Yang ada orang tua yang tidak baik, karena melalaikan kewajibannya. Namun anak tetap harus berbakti dan patuh kepada orang tua yang kurang baik akhlaqnya, selama perintahnya tak bertentangan dengan perintah Allah SWT. Urusan orang tua yang tidak baik itu urusan dia dengan Tuhannya. Urusan anak tetap berbakti kepada orang tuanya.
Ketahuilah…
Orang tua bukan penyebab utama kerusakan moral anaknya yang telah dewasa. Ketika anak belum aqil baligh memang orang tua yang bertanggung jawab. Namun setelah aqil baligh, anak sendiri yang bertanggung jawab atas dirinya. Seorang anak tak boleh dan tak bisa terus menerus menyalahkan orang tuanya jika sudah dewasa. Bukankah seorang yang dewasa sudah punya pilihan bebas?
“Atau agar kamu tidak mengatakan, ‘Sesungguhnya nenek moyang kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami adalah keturunan yang (datang) setelah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang (dahulu) yang sesat?” (Qs. 7 ayat 173)
Allah SWT mengecam mereka yang suka menyalahkan orang tua atau kakek neneknya sebagai akibat perbuatan salahnya.
Yang lebih utama adalah anak yang berbakti kepada orang tuanya hidupnya menjadi barokah. Sebaliknya, anak yang durhaka kepada orang tuanya hidupnya menjadi susah.
“Sungguh rugi, sungguh rugi, dan sungguh rugi! Seorang yang mendapati salah satu dari kedua orang tuanya pada usia lanjut atau kedua-duanya, namun ia tidak masuk surga (lantaran tidak berbakti kepada orang tuanya).” (HR. Muslim)
“Setiap dosa, Allah akan menunda (hukumannya) sesuai dengan kehendak-Nya pada hari Kiamat, kecuali durhaka kepada orang tua dan memutuskan silaturrahim. Sesungguhnya orangnya akan dipercepat (hukumannya sebelum hari Kiamat).” (HR Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 459 )

Tinggalkan komentar