Berdebat Dengan Orang Atheist

2–3 menit

Oleh: Satria hadi lubis

SEORANG dosen statistik berdebat dengan mahasiswanya.

Dosen statististik : “Tuhan itu tidak ada sebab tak masuk akal!”

Mahasiswa : “Dari teori probabilita, mana yang lebih besar keuntungannya jika kita percaya Tuhan atau tidak percaya Tuhan?”

Dosen statistik : “Lebih untung tidak percaya Tuhan karena kita bisa hidup bebas”

Mahasiswa : “Salah! Kalau Tuhan ternyata ada dan punya neraka, maka kita akan untung jika percaya Tuhan dan mengerjakan perintah-Nya. Sebab di akhirat kita tidak masuk neraka.
Sebaliknya, jika Tuhan memang benar tidak ada, sehingga neraka juga tidak ada, maka kita tak akan rugi juga kalau percaya Tuhan. Setelah meninggal ya sudah…

Jadi percaya Tuhan lebih besar probabilita keuntungannya daripada orang yang tidak percaya Tuhan di akhirat nanti!”

Dosen statistik : Terdiam.

Pada kisah lain, terjadi perdebatan antara dosen fisika yang atheis dengan mahasiswanya.

Dosen fisika : “Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?”

Mahasiswa: “Betul, Dia Pencipta Segalanya.”

Dosen fisika : “Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan juga menciptakan kejahatan.”
(Semua terdiam, kesulitan menjawab hipotesis Profesor itu).

Tiba-tiba, suara seorang mahasiswa memecah kesunyian.

Mahasiswa: “Prof, saya ingin bertanya. Apakah dingin itu ada?”

Dosen fisika : “Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja, dingin itu ada.”

Mahasiswa: “Prof, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin sebenarnya adalah ketiadaan panas. Suhu -460 derajat Fahrenheit adalah ketiadaan panas sama sekali. Semua partikel menjadi diam, tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata ‘dingin’ untuk mengungkapkan ketiadaan panas. Selanjutnya, apakah gelap itu ada?”

Dosen fisika : “Tentu saja ada!”

Mahasiswa : “Anda salah, Prof! Gelap juga tidak ada. Gelap adalah keadaan di mana tiada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, sedangkan gelap tidak bisa. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk mengurai cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari panjang gelombang setiap warna. Tapi, Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur melalui berapa besar intensitas cahaya di ruangan itu. Kata ‘gelap’ dipakai manusia untuk menggambarkan ketiadaan cahaya. Jadi, apakah kejahatan itu ada?”

Dosen fisika mulai bimbang, tapi menjawab: “Tentu saja ada.”

Mahasiswa: “Sekali lagi Anda salah, Prof! Kejahatan itu tidak ada. Allah tidak menciptakan kejahatan. Seperti dingin dan gelap, ‘kejahatan’ adalah kata yang dipakai manusia untuk menggambarkan ketiadaan Tuhan dalam dirinya. Kejahatan adalah hasil dari tidak hadirnya Allah dalam hati manusia.”

Dosen fisika terpaku dan terdiam!

Sifat atheis terjadi karena seseorang mengagungkan akal dan logikanya semata. Seakan yang tidak masuk akal itu tidak ada, sehingga Allah juga tidak ada karena tak bisa diraba, dilihat dan didengar.

Inilah kepicikan logika manusia. Padahal otak manusia begitu lemah, terbentur batu saja sudah gegar otak dan hilang kesadaran.

“Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh” (QS. 33 Ayat 72).

Tinggalkan komentar