By. Satria hadi lubis
WISATA biasanya identik dengan jalan-jalan dan bersenang-senang. Namun wisata (rihlah) di dalam Islam bukan hanya sekedar senang-senang, tapi juga perlu ada sarana tafakur untuk mendekatkan diri kepada Allah, serta ajang silaturahim dan berjihad di jalan Allah.
Khusus wisata sebagai jihad ini dinyatakan sendiri oleh Baginda Rasulullah saw dalam sebuah hadits, “Dari Abu Umamah ra bahwa ada seorang pria berkata, “Wahai Rasulullah, izinkan aku untuk wisata!” Maka Nabi bersabda, “Sesungguhnya wisata (rihlah) umatku adalah BERJIHAD fi sabilillah” (Hadis sahih – diriwayatkan oleh Abu Daud).
Maksudnya adalah jika engkau melakukan perjalanan wisata, maka hendaklah engkau berjihad di jalan Allah, karena inilah perjalanan wisata umat Islam. Sebab di dalamnya ada usaha untuk menyebarkan agama Allah (dakwah) dan mengukuhkan prinsip serta kaidah-kaidahnya yang agung.
Jadi kedudukan wisata di dalam Islam tak boleh sekedar bersenang-senang saja, namun ada maksud mulia di dalamnya. Yaitu, berdakwah jika dalam keadaan damai, serta berperang di jalan Allah jika dalam keadaan tidak damai.
Dalam konteks yang lebih luas, hidup seorang mukmin sejatinya memang berpindah dari satu wisata ke wisata lain. Hidupnya selalu asyik dan asyik. Selalu dalam keadaan bahagia dimanapun ia berada. Tak peduli di dalam penjara atau di luar penjara sekalipun. Seperti yang dikatakan oleh Nabi Yusuf as, “Wahai Rabbku, penjara LEBIH AKU SUKAI daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan diriku dari tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh. Maka Rabbnya memperkenankan doa Yusuf, dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (Qs. 12 ayat 33-34). Nabi Yusuf as mencontohkan bahwa kita bisa bahagia di manapun, termasuk di dalam penjara.
Para Nabi, para sahabat ra, para ulama dan orang-orang sholih di sepanjang zaman juga membuktikan bahwa mereka bahagia dengan hidup dalam dakwah dan jihad di jalan Allah. Di antara mereka ada yang dibunuh, diusir, dipenjara, disiksa dan dicemooh masyarakat. Namun mereka tak gentar karena mereka telah menemukan kebahagiaan sejati.
Rasulullah saw kagum kepada orang-orang beriman yang selalu berada dalam kebaikan dan kebahagiaan, apa pun kondisinya, “Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya” (HR. Muslim).
Seorang ulama pernah mengatakan, “Jangan mimpi bisa masuk surga jika engkau belum merasa hidup di dunia ini bagai di surga (yakni bahagia). Sebab hanya orang-orang yang di dunianya berkarakter penghuni surga saja yang bisa betah berada di dalam surga kelak.
Orang yang selalu merasa susah (tidak bahagia) dan suka konflik akan sulit menyesuaikan diri dengan kondisi surga yang tenang di akhirat nanti. Ia tak akan betah berada di surga.
Oleh karenanya menjadi bagian dari keadilan Allah SWT jika orang yang tidak berkarakter surga ditempatkan di neraka. Sebab dirimu yang sekarang juga adalah dirimu di akhirat kelak!”
Allah sendiri menyebut para calon penghuni surga dengan panggilan “Wahai orang-orang yang hatinya tenang (bahagia)”, untuk menandaskan bahwa hanya orang yang sudah bahagia di dunia yang akan masuk surga di akhirat kelak.
“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku. Masuklah bersama mereka ke dalam surga-Ku yang Aku siapkan untuk mereka.” (Qs. 89 ayat 27-30)
Maka jadikan hidupmu bahagia di dunia. Cari jalan-jalan untuk memperoleh kebahagiaan dengan hidup seimbang, bersyukur, beribadah, bermanfaat bagi orang lain, berdakwah dan berjihad serta istiqomah dalam Islam.
Sesungguhnya, hidup orang-orang yang beriman adalah wisata (bahagia) selamanya. Wisata dengan dakwah dan jihad di dunia. Hingga akhirnya wisata dengan kesenangan tanpa batas di akhirat kelak.
“Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka). Mereka dan istri-istri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan. Di surga itu mereka memperoleh buah-buahan dan memperoleh apa yang mereka minta. (Kepada mereka dikatakan), “Salam,” sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang” (Qs. 36 ayat 55-58).

Tinggalkan komentar